Techverse.Asia

Perusahaan Induk Parler Telah Memberhentikan Sebagian Besar Stafnya

Logo media sosial Parler (Sumber : Istimewa)

Techverse.asia - Parlement Technologies, perusahaan induk dari platform media sosial Parler yang "bebas sensor", telah memberhentikan sebagian besar stafnya dan sebagian besar kepala eksekutifnya selama beberapa minggu terakhir. Pembersihan staf yang tiba-tiba telah membuat masa depan Parler, salah satu alternatif konservatif pertama untuk platform arus utama, dipertanyakan.

Parlement Technologies mulai memberhentikan pekerja pada akhir November tahun lalu, menurut berbagai sumber yang mengetahui masalah tersebut. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ini berlanjut hingga setidaknya akhir Desember, ketika total sekitar 75 persen staf diberhentikan, meninggalkan sekitar 20 karyawan yang bekerja di Parler dan usaha layanan cloud perusahaan induk. Mayoritas eksekutif perusahaan, termasuk kepala bagian teknologi, operasi, dan pemasaran, juga telah diberhentikan, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Baca Juga: Elon Musk Dituntut karena Lakukan PHK, Hakim: Gugatan Sebaiknya Dicabut

George Farmer, suami dari influencer konservatif Candace Owens, adalah CEO Parlement Technologies saat ini, perusahaan induk Parler. Farmer menggantikan mantan CEO Parler, John Matze, pada Mei 2021, tak lama setelah aplikasi dicabut larangannya dari toko aplikasi. Dalam sebuah wawancara dengan The Wall Street Journal pada Februari 2021, Matze mengatakan bahwa dia dikeluarkan karena keinginannya untuk mengubah kebijakan moderasi platform.

Saat dimintai komentar, perwakilan Public Relations (PR) eksternal yang sebelumnya bekerja di akun Parler memberi tahu kami bahwa dia tidak lagi bekerja dengan Parler.

Parler sendiri didirikan pada 2018 pada puncak perang mantan Presiden Donald Trump melawan platform media sosial atas dugaan diskriminasi terhadap pengguna konservatif. Platform tersebut memasarkan dirinya sebagai alternatif "kebebasan berbicara" untuk platform yang lebih umum seperti Facebook dan Twitter, menawarkan apa yang disebutnya sebagai kebijakan moderasi anti-sensor.

Popularitas aplikasi melonjak sepanjang siklus pemilihan presiden 2020, mendaftarkan lebih dari 7.000 pengguna baru per menit pada puncaknya November itu. Tetapi setelah kerusuhan 6 Januari yang mematikan di Gedung Putih atau US Capitol, Apple dan Google mengeluarkan aplikasi tersebut dari toko aplikasi mereka setelah kritik bahwa itu digunakan untuk merencanakan dan mengoordinasikan serangan. Larangan ini mencegah pengguna baru mengunduh aplikasi, secara efektif mematikan pertumbuhan pengguna. 

Baca Juga: Apple Dilaporkan Tertarik untuk Membeli Hak Siar Liga Inggris

Parler kembali ke Apple Store empat bulan setelah dilarang setelah memberikan serangkaian kebijakan moderasi yang diubah. Namun, pada saat itu, platform media sosial milik Trump dikabarkan akan diluncurkan, dan beberapa aplikasi saingan, seperti Gettr dan Rumble, telah memasuki pasar media sosial yang “bebas sensor”.

Pertumbuhan pengguna Parler tetap lemah saat pesaing muncul. Memanfaatkan sejarah offline, perusahaan mengumumkan September lalu bahwa mereka sedang membentuk usaha baru, Parlement Technologies, yang akan menampung platform sosialnya dan bisnis layanan cloud baru yang "tidak dapat dibatalkan". Parlement Technologies mengakuisisi infrastruktur cloud dengan membeli Dynascale, sebuah perusahaan yang berbasis di California, sebesar $16 juta dalam pendanaan baru.

Editor : Rahmat Jiwandono