Techverse.Asia

Restoran Noma di Kopenhagen Tutup, Bakal Fokus Ke Proyek e-Commerce

tim Noma Projects yang juga memproduksi berbagai minuman fermentasi / Noma

"Pada tahun 2025, restoran kami berubah menjadi lab raksasa—sebuah dapur uji perintis yang didedikasikan untuk karya inovasi makanan dan pengembangan rasa baru, yang akan membagikan hasil upaya kami lebih luas daripada sebelumnya," tulis laman Noma, dengan kalimat yang cukup menghadirkan melankolia.

Laman The New York Times yang mengabarkan kabar duka ini, dan kami mengutipnya pada Jumat (13/1/2023).

Sejak dibuka dua dekade lalu, Noma, sebuah restoran di Kopenhagen, Denmark, dikenal sebagai tempat makan yang biasa menyajikan hati rusa panggang di atas hamparan biji pinus segar. Selain itu, ada pula es krim saffron dalam mangkuk beeswax yang menjadi menu pada meja makan.

Noma adalah kependekan dari bahasa Denmark untuk Nordisk dan Mad, yang berarti Nordik dan makanan. Restoran ini dibuka pada 2003, pernah meraih dua bintang Michelin, tiga kali terpilih sebagai restoran nomor satu dunia oleh Majalah Restoran Inggris terhitung 2010, 2011 dan 2012.

Turis gastro baru berkelas global, biasanya bisa menjadwalkan penerbangan mereka di kelas satu dan seluruh paket liburan dengan hak istimewa. Kemudian mereka harus membayar setidaknya $500 dolar per orang, untuk dapat mencicipi menu garapan René Redzepi dan tim dapurnya.

Noma, Restoran Terbaik di Dunia

Noma telah berulang kali menduduki puncak daftar restoran terbaik dunia, dan penciptanya, René Redzepi, dipuji sebagai koki paling cemerlang dan berpengaruh di masanya.

Hingga kemudian, René mengatakan jika restoran akan ditutup sepenuhnya untuk layanan reguler pada akhir 2024.

Noma akan bertransformasi menjadi laboratorium makanan. Mengembangkan hidangan dan produk baru untuk operasi e-commerce mereka 'Proyek Noma' (Noma Projects). Kelak, ruang makan hanya akan dibuka untuk pop-up secara berkala.

Peran dari René akan menjadi lebih dekat dengan Chief Creative Officer daripada seorang chef, tulis The New York Times dalam salah satu halaman mereka. 

Editor : Uli Febriarni