Techverse.Asia

Beli KW Karena Tipis Dana Tapi Tinggi Gengsi? Lebih Banyak Rugi

berbelanja / freepik

Membeli barang bermerek bagi sebagian orang adalah kebetulan, karena pada awalnya mereka hanya mencari barang berkualitas, sesuai selera, ongkosnya ada.

Sebagian lainnya membeli karena loyalitas terhadap merek. 

Namun ada satu lagi jenis konsumen, membeli barang bermerek karena gengsi.

Dan yang disayangkan, tak semua konsumen 'gengsi' memiliki uang cukup untuk memenuhi gaya mereka. Karena pada akhirnya, membeli barang bermerek namun palsu adalah pilihan.

Merugikan Negara

Meski tak sedikit yang melakukannya hingga dianggap lumrah bagi sebagian kalangan, konsumsi barang palsu bukan berarti nihil efek.

Dalam hitungan ekonomi, pembelian barang palsu merugikan negara. Setidaknya itu yang dipublikasikan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.

Pada 2014, hasil survei Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) mengenai produk palsu, mencatat bahwa negara mengalami kerugian Rp65,1 triliun akibat adanya transaksi barang palsu.

Sementara itu, terhitung hingga September 2022, negara sudah harus menanggung kerugian mencapai Rp291 triliun karena peredaran barang palsu dan tidak resmi.

Bukan hanya itu, studi MIAP dan Institute for Economic Analysis of Law & Policy Universitas Pelita Harapan (IEALP UPH) memperlihatkan, transaksi barang palsu menimbulkan miliar kerugian pajak senilai Rp967 miliar dan potensi kerugian kesempatan kerja lebih dari dua juta.

Editor : Uli Febriarni