Techverse.Asia

Tren Kembalinya Fotografi Kamera Analog Masih Bertahan, Apa Saja Keseruannya?

kamera analog / freepik

Pehobi fotografi tentunya sudah lama menyadari, minat orang-orang saat ini kembali pada estetika proses dan hasil foto kamera analog.

Hal itu ditunjukkan dengan semakin banyaknya unggahan di media sosial mengenai hasil foto dari kamera analog. Sebelum itu, didahului dengan tren bertebaran foto-foto digital dengan teknik editing yang memunculkan hasil seperti foto analog.

Ternyata, itu bukan hanya fenomena yang nampak di depan mata. Karena pada awal tahun ini, produsen kamera dan film Kodak mengumumkan kalau mereka membutuhkan lebih banyak pekerja.

"Dikarenakan adanya permintaan pasar mengenai kamera analog, pabrik film mereka yang ada di Rochester Amerika Serikat, -yang beroperasi selama sepekan penuh-, telah mempekerjakan 350 orang pada tahun lalu. Namun mereka masih membutuhkan 100 orang lagi," begitu yang dilaporkan oleh Euronews.

Dikutip pada Kamis (29/12/2022), Direktur Komunikasi Kodak, Kurt Jaeckel menuturkan, bisnis film mereka mengalami kebangkitan karena permintaan pasar meningkat cukup signifikan. Baik itu untuk produk both photo maupun motion picture film.

"Banyak fotografer amatir telah menemukan kembali film sebagai bagian dari tren mereka menuju teknologi analog. Dan banyak juga sutradara dan sinematografer lebih memilih tampilan film untuk semuanya, mulai dari video musik hingga fitur film," ungkap Jaeckel. 

Seorang fotografer berusia 29 tahun asal Amerika Serikat, bernama Jason Kummerfeldt, mengatakan, ketika memotret dengan film, kalian akan mendapatkan sebuah foto yang nyata pada film negatifnya, bukan hanya satu dan nol pada kartu memori kalian. 

Apa yang Kummerfeldt katakan kepada media DW itu menunjukkan, kembalinya tren kamera foto analog pada hari ini, memberikan sebuah penjelasan tentang suatu hal yang klasik akan tetap menjadi memori yang dapat teringat secara autentik.

Kamera klasik punya kekurangan hasil jepretan yang tak dapat begitu saja dihapus, bila kita tidak puas dengan tampilannya. Belum lagi, penggunaan rol film hanya terbatas untuk mengakomodasi 27-36 gambar saja. 

Namun ada hal yang tak bisa tergantikan dari analog dan sama sekali tak bisa disubtitusi oleh kehadiran kamera digital kekinian. 

Editor : Uli Febriarni