Techverse.Asia

Review Avatar The Way of Water: Pertarungan Bangsa Langit, Bangsa Hutan dan Bangsa Laut

Avatar The Way of Water

Techverse.asia - Penantian penonton setia Avatar terhadap dunia pandora terjawab lunas setelah masa penantian selama 13 tahun. Ya, sekuel Avatar: The Way of Water garapan James Cameron sudah tayang di bioskop Indonesia sejak tanggal 14 Desember kemarin. Film berdurasi 3 jam 12 menit sukses membius penonton untuk masuk dan merasakan bagaimana dunia Pandora yang terasa sangat realistic meski semuanya hanyalah rekaan imajinasi dengan bantuan teknis.

Avatar: The Way of Water berfokus pada cerita keluarga Jake Sully (Sam Worthington) yang jatuh cinta kepada Neytiri (Zoe Saldana) yang dikaruniai empat orang anak. Mereka bernama Neteyam (Jamie Flatters) anak pertama yang dianggap sebagai panutan oleh adik-adiknya, Lo’ak (Britain Dalton) anak kedua yang tidak mau dianggap remeh. Anak ketiganya yaitu Kiri (Sigourney Weaver) dan si bungsu Tuk (Trintiy Jo-Li Bliss). 

Baca Juga: Avatar The Way of Water Diputar kepada Wartawan: Lebih Baik dan Lebih Emosional

Selama tiga jam lebih menonton film ini di bioskop, saya masih merasakan impresi yang sama halnya ketika kali pertama menonton Avatar (2009), yaitu dunia Pandora yang merupakan habitat para Na’vi. James Cameron konsisten menunjukkan betapa mengagumkannya alam Pandora. Namun, semuanya sudah banyak berubah sejak invasi dari Bangsa Langit atau manusia yang mencoba melakukan pendudukan atau kolonialisasi terhadap dunia Pandora.

Meskipun demikian, penonton diajak untuk melihat keindahan dunia Pandora lebih jauh lagi dengan petualangan keluarga Jake Sully ke Metkayina, Bangsa Laut yang tinggal di kepulauan. Ini berbeda dengan Neytiri yang merupakan Na’vi tapi Bangsa Hutan yang tinggal pepohonan dan gunung. Sesuai dengan judulnya, Avatar: The Way of Water, James tampaknya ingin mengeksplorasi luasnya samudera dari sudut pandang Bangsa Hutan yang sama sekali  tidak mengenal bagaimana cara survive di perairan seperti cara hidup yang dijalani oleh Bangsa Laut.

Animasi samudera dalam dunia Pandora begitu smooth sehingga saya sulit untuk menemukan celah kekurangan dari film ini, meski kita tahu semua itu hanya buatan komputer. Sebagai gambaran, laut yang ditampilkan di Avatar: The Way of Water sama seperti halnya dengan laut berpasir putih dan airnya yang sejernih kristal, sama seperti pantai yang ada di Indonesia Timur.

Kembali ke Jake dan keluarganya yang datang ke Metkayina, jika selama ini mereka terbiasa dengan pepohonan, maka begitu di air mereka terlihat kikuk saat belajar tentang cara hidup di laut, mulai dari berenang, menyelam, mengatur napas di dalam air, hingga belajar menunggangi hewan laut fiksi.

Dengan Bangsa Laut, Jake dan keluarganya belajar itu semua dari Tonowari (kepala suku Bangsa Laut) dan istrinya Ronal (Kate Winslet). Anak-anak dari Tonowari dan Ronal pun diminta untuk mengajari anak-anak Jake dan Neytiri cara hidup di air. Selama mereka mempelajari itu semua, ada hal yang membuat saya tertarik yaitu bagaimana mereka (bangsa hutan) mengatakan I See You kepada setiap biota laut yang mereka temui saat menyelam, mengapung, maupun yang ada di tepi pantai. Ini memberi pesan tentang cara berkenalan dengan makhluk baru sekaligus menghargainya. 

Baca Juga: Kata James Cameron Tentang Film Avatar The Way of Water yang Berdurasi 3 Jam Lebih

Kata I See You sejatinya merupakan original soundtrack dari film Avatar pertama yang dibawakan oleh Leona Lewis. Bisa dikatakan kata itu adalah sama halnya kekaguman Jake dengan Nyetiri ketika pertama kembali bertemu dan akhirnya jatuh cinta hingga menjadi warga Na’vi seutuhnya.

Editor : Rahmat Jiwandono